Kamis, 16 Juni 2011

Goresan sang Kanvas

Kenalin. Aku punya temen namanya Afra Hatim. Dia temen sekelasku, X1, nomer absen 1. Orang yang punya 'skandal' (jepit, mbi -_-) dengan orang yang berinisial MFH ini, menuliskan yang-intinya-tidak-aku-ketahui di wall group kelas. Dia menyamakan dirinya dengan kanvas. Aku bingung. Dari sisi mana seonggok kanvas ada dalam dirinya. Langsung saja, dia nge-post kayak gini:

Kepada kalian yang telah memenuhi alam bawah sadarku setahun ini.
Kalian adalah kumpulan cat warna-warni yang selalu kubutuhkan untuk memenuhi kanvas putih hidupku. Itulah yang aku rasakan pertama kali sejak kita bertemu. Tak pernah terpikirkan bahwa aku akan bertemu orang-orang seperti kalian, tetapi seperti benang merah yang pasti a...kan menyatukan kita sejauh apapun kita terpaut olehnya.
Ketika itu, duniaku berwarna putih polos. Tanpa goresan. Hanya setitik noktah kecil tak bernyawa. Namun, kalian telah mengisinya dengan berbagai rasa yang untuk merasakannya sendiri pun aku bingung. Banyak pelajaran yang kuterima di sekolah, semua menjadi tidak berharga saat aku mulai mengenal sisi lain dari kehidupan. Aku tumbuh oleh senandung kisah-kisah kalian yang mengajarkanku tentang ketulusan, kebersamaan, bahkan apa itu arti cinta. Mengenal Tuhan lebih jauh pun kalian ceritakan disini.
Sejuta kisah kalian tumpahkan untuk membuat kanvas putihku menjadi berwarna. Kalian torehkan merah menyala yang mampu membuatku untuk lebih bersemangat. Menyiramkan biru laut untuk meredam emosiku, atau menggoreskan kuning ceria untuk membawaku kembali ke dunia anak-anak.
Kalian benar-benar membuatku jatuh cinta. Tak ada bosan bila bersama kalian. Karena kalian mewakili semua rasa, semua warna, dan semua ekspresi yang dimiliki dunia ini. Karena kalian menunjukkanku bagaimana caranya menghadapi kesedihan dan cobaan, meraih cinta, dan menggapai impian. Karena kalian selalu mengingatkanku disaat aku melintasi jalan yang salah. Karena kalian selalu meyakinkanku disaat aku meragu.
Sampai kapanpun, cinta kalian tak pernah kurasa cukup. Karena kalian, para penjual minyak wangi, yang aku selalu ingin berdekatan agar tetap mendapatkan wanginya. Tak hanya untuk kenikmatan dunia, kehidupan masa depan di akhirat pun sedikit banyak kalian ajarkan selama ini.
Sejujurnya, aku ingin untuk terus menjadi anak-anak agar tetap berada di sekeliling kalian. Tapi itu mustahil. Dan seperti kata Kahlil Gibran, "Jangan menangis, Kawanku. Janganlah menangis. Dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah, kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan"
Kehidupan yang ditentukan-Nya terus berjalan, sampai waktu dimana kita akan bersama lagi. Aku tersadar, aku terlalu egois karena tak ingin cinta kalian dimiliki orang lain. Maka, mulai kali ini aku harus belajar untuk ikhlas membagi cinta kalian. Agar orang lain bisa turut merasakan apa yang kudapatkan dari kalian. Karena cinta adalah berbagi. -Afra Hatim
Aku tau dia pasti punya niat baik buat nulis gituan. Sampai nafsu abis nulis segitu banyak. Tapi saking banyaknya, aku ngga dong -,- #SalahSiapa. Post ini aku repost disini, siapa tau suatu saat aku bisa memahami. Lagian kalo di wall group kelas bisa kegusur....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar