Ehm. Sabtu malam nih, mau keluar rumah, tapi kaki lagi ngga bisa diajak kompromi....
Ngeles.
Tapi beneran ini. Kamis, 28 April lalu aku habis ditimpa musibah. Aku kecelakaan karambol di Jalan Solo. Begini kronologisnya...
Pagi itu aku menyengaja untuk berangkat sekolah mepet bel masuk, soalnya hari apa-itu-aku-lupa aku masuk terlalu pagi dan mendapati kelas sepi kayak kuburan. Alhasil, aku turun ke lobby dan sok-sokan baca pengumuman yang sebelumnya udah aku baca. Disitu aku ketemu Afra, Dayu, dan Arum. Ngobrol-ngobrol di lobby sampe akhirnya bel bunyi.
Back to topic, hari itu aku mendapati skala tangki bahan bakarku di paling kiri, warna merah. Ya, habis. Akhirnya dengan waktu berangkat sekolah nge-pas, aku isi bensin dulu di SPBU baru di pertigaan, depan ex-Soto Bangkong. Ngga tau kenapa, aku ngga ngisi bensin di SPBU biasanya. Mungkin karena SPBU-nya baru jadinya antre panjang. Semacam orang ndeso yang mau nyobain hal baru. Oke, aku termasuk. Antrenya lumayan panjang, butuh waktu lima menit buat ngantre, yang artinya nanti aku bakal telat lima menit pelajaran bu Triwik. It's not a big deal, bruder... Seharusnya, bensin dalam keadaan full hari itu, soalnya Ayah yang tarakhir make. Semacam ongkos, karena make motorku. Ehm, motornya Ayah sih. Tapi perjanjiannya ganti, teman-teman. Karena aku boros, jadinya uang saku-ku sekaligus buat isi bensin. Uhhh -,-
Bensin full. Full setengah. Uang jajan mepet.
Perjalanan mulus sampai akhirnya aku ngelakson seonggok mbak bermuka-sok-inosen memotong jalan di depan Empire XXI. Depanku juga nglakson, dan berhasil mengendalikan diri buat berhenti. Aku juga. Tapi sayangnya disini aku kurang beruntung. Aku disruduk oleh mas berobsesi-pembalab. "Bruk!" "Bruk!" "Bruk!" Yak, tiga kali. Tiga motor di belakangku juga jatuh. Mungkin sebagian tidak bisa mengendalikan diri, sebagian kaget. Aku jatuh, tapi 'ngga papa', ngga ada yang lecet. Badanku agak sakit aja, karena kaget dalam posisi berhenti aku menahan beban motorku. Jatuh, tapi tidak terbanting keras. Terbanting lemah. Terbanting. Tetap saja terbanting yang bikin perseneling (ngga tau gimana nulisnya) peyok. Aku bisa langsung berdiri disitu. Motorku dibawa bapak yang ngga-sempat-kulihat-wajahnya ke pinggiran dekat Giant. Terus mbak bermuka-sok-inosen itu "Maaf ya mbak, salah saya ya? Padahal saya sudah reting lo." Disitu aku mau naik pitan, tapi batinku, "tahan Dhel, tahan. Kamu udah telat." Beuh... Akhirnya, tanpa memperpanjang masalah, aku kembali menaiki motorku. Sempat kepikiran sama mas berobsesi-pembalab yang memegangi kepalanya, soalnya dia semacam glundung gitu pas di TKP. Lumayan lega, sempat menyalahkan mbaknya. Kalo ada waktu banyak, aku bakal minta ganti rugi atas perseneling-ku. Tapi, you know-lah. Ekspektasiku, aku bakal telat 10 menit. Bener, dengan kaki agak sakit habis jatuh CNT (Cross Night Tonti) 2011, ditambah jatuh dari karambol pagi itu, aku bisa menyelesaikan perjalananku ke sekolah. Yang membuatku tidak menyesal karena telat adalah Zula dan Cutek juga baru dateng. Akeh bolone...
Masuk kelas. "Eya" 3x dari teman-teman untuk masing-masing kami. Terimakasih :3 :B
Langsung duduk di bagian belakang, sebelah Arum. Cerita. Kata Arum, suruh ngabari Ibu, akhirnya langsung ku sms. Pertamanya mau kayak gini:
"Bu, adek habis kecelakaan karambol di Jalan Solo. Tapi ngga papa, cuma kesleo. Giginya peyok."
Tapi setelah ku pikir-pikir, pasti Ibu langsung panik banget, tau gigi peyok. Pasti Ibu bayangin aku luka berdarah-darah. Akhirnya, aku ganti kosakata Gigi menjadi Perseneling.
Soalnya, dulu aku pernah sms Ibu, setelah Emas kecelakaan kayak gini:
"Bu, emas kecelakaan. Gusinya pecah."
Dari Balikpapan, Ibu panik banget, nelpon berulang kali, suruh cepet-cepet bawa Emas ke Bethesda. Aku bingung. Tadi pas ketemu Emas setelah perkara, Emas baik-baik aja. Cuma motornya rusak. Ya, kesalahan ada pada diriku. Aku ngga bisa bedain Gusi dan Busi.
Habis aku sms, Ibu langsung telpon aku pas pelajaran bu Triwik. Okedah, ku angkat aja. Daripada Ibu panik. Uuu tanda sayang mama kepada anaknya :3
Ya, kurang lebih ceritanya begitu. Tadi pagi, aku ngga masuk sekolah. Bukan bolos lho, tetapi menyengaja ngga masuk. Sama aja. Oke. Aku menyengaja ngga masuk, soalnya guru-guru lokakarya. Yaudah, aku pijet aja. Ngga tau salah siapa, kok badanku malah sakit semua ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar